PERAN IPTEK DALAM PERKEMBANGAN TERNAK LOKAL
PERAN
IPTEK DALAM PERKEMBANGAN TERNAK LOKAL
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
IPTEK adalah singkatan dari ‘ilmu
pengetahuan dan teknologi', yaitu suatu sumber informasi yang dapat
meningkatkan pengetahuan ataupun wawasan seseorang dibidang teknologi. Dapat
juga dikatakan, definisi IPTEK ialah merupakan segala sesuatu yang berhubungan
dengan teknologi, baik itu penemuan yang terbaru yang bersangkutan dengan
teknologi ataupun perkembangan dibidang teknologi itu sendiri. Ilmu adalah
pemahaman mengenai suatu pengetahuan, yang mempunyai fungsi untuk mencari,
menyelidiki, lalu menyelesaikan suatu hipotesis. Ilmu juga yaitu merupakan
suatu pengetahuan yang sudah teruji akan kebenarannya. Pengetahuan adalah
suatu yang diketahui ataupun disadari oleh seseorang yang didapat dari
pengalamannya. Pengetahuan juga tidak dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena
kebenarannya belum teruji. Pengetahuan muncul disebabkan seseorang menemukan
sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilihatnya. Teknologi adalah
suatu penemuan melalui proses metode ilmiah, untuk mencapai suatu tujuan yang
maksimal. Atau dapat diartikan sebagai sarana bagi manusia untuk menyediakan
berbagai kebutuhan atau dapat mempermudah aktifitas.
Dalam sub-sektor peternakan, khususnya peternakan
sapi dan kerbau, terdapat variasi dalam penggunaan teknologi. Namun secara
umum, peran teknologi dalam pembangunan peternakan sapi dan kerbau jauh
tertinggal dibanding dengan peternakan ayam ras yang telah memasuki era
agribisnis murni . Hat ini terbukti dari ketidak-mampuan negeri kita untuk
mencukupi kebutuhan daging sapi dan kerbau yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun serta semakin terkurasnya populasi kedua jenis ternak tersebut . Walaupun
tebih tertinggal dibanding peternakan ayam ras, sebenarnya terobosan teknologi
ternak sapi dan kerbau sudah cukup berkembang, terutama dalam teknologi pakan
dan reproduksi, hat ini terlihat pada penampilan sapi eksotik atau sapi
persilangan (crossbreeding) dengan tingkat produktivitas yang tinggi . Hanya
saja aplikasi teknotogi tersebut pada ternak lokal, khususnya pada kerbau dan
sapi lokat masih terbatas dan sangat bergantung pada kemampuan petani yang
relatif marginal . Perubahan teknologi peternakan tidak diragukan lagi menjadi
sumber peningkatan produksi, khususnya bagi ternak ruminasia bersar.
Ketidak-mampuan untuk menerapkan dan mengembangkan teknologi maju dalam
manajemen pemeliharaan ternak sapi merupakan salah satu penyebab tingkat
produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri tidak dapat mengimbangi permintaan
yang mengatami pertumbuhan yang jauh lebih cepat . Saat ini, sekitar 70% dari
produksi daging sapi berasal dari sapi rakyat yang umumnya mempunyai
produktivitas rendah akibat praktek manajemen apa adanya sehingga diragukan
untuk mencapai tingkat produksi yang dibutuhkan . Angka sumbangan ini
sebenarnya sudah menurun dibandingkan tahun 1998 sebesar 84% (BPS, 2002).
Konsekuensinya, Pemerintah membuka keran impor sapi bakalan untuk digemukkan di
dalam negeri sehingga dapat diktaim sebagai produksi dalam negeri wataupun
masih perlu impor daging beku untuk segmen pasar khusus . Jumlah sapi bakalan
impor mencapai puncaknya 400 ribu ekor pada tahun 2000 dan ini mernpertihatkan
bahwa produksi bakalan domestik relatif rendah . Perusahaan-perusahaan
penggemukan membutuhkan sapi bakalan impor karena keterbatasan produksi bakatan
dalam negeri (Peni, 2003). Makalah ini akan membahas tentang peran teknologi
datam pengembangan ternak tokal, khususnya sapi dan kerbau dengan melihat
dampaknya terhadap keberlanjutan dan pendapatan masyarakat peternak
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan teknologi di bidang ternak sapi dan kerbau ?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan
teknologi di bidang ternak khususnya ternak sapi dan kerbau.
1.4 Manfaat
Untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa IPTEK
sangat berpengaruh terhadap perkembangan ternak lokal khususnya terak sapi dan
kerbau.
BAB II
PEMBAHASAN
KESEDIAAN TEKNOLOGI BAGI TERNAK LOKAL
Sistern
Integrasi Tanaman-Ternak Sistem integrasi tanaman ternak atau yang dikenat Crop
Livestock System (CLS) adalah upaya untuk mengembangkan potensi wilayah dengan
mengoptimatkan produktivitas lahan dan sumberdaya lokal . Sistem integrasi
tanaman-ternak merupakan salah satu alternatif sistem pertanian terpadu yang
berkesinambungan dan ramah lingkungan Keuntungan yang diperoteh adalah sinergi
produksi tanaman dan ternak dalam satu
hamparan
SIPT
adalah suatu upaya percepatan pengembangan usaha peternakan metalui integrasi
usahatani padi dengan ternak sapi yang sating menguntungkan dimana jerami padi
diproses sebagai pakan ternak untuk menghasilkan sapi bakalan/bibit, sedangkan
kotoran ternak datam bentuk kompos digunakan sebagai pupuk lahan sawah. Secara
umum, SIPT atau mensinergikan hubungan antara tanaman dengan ternak merupakan
salah satu solusi jangka panjang untuk mengembangkan peternakan rakyat yang
ramah lingkungan, khususnya bagi ternak lokal .
Teknologi Pakan
Seperti
telah diketahui bahwa peternakan ruminansia sangat tergantung pada ketersediaan
pakan hijauan atau limbah pertanian . Pada musim paceklik, ketersediaan pakan
menjadi terbatas, baik kuantitas maupun kualitasnya . Dengan demikian produksi
ternak ruminansia menjadi rendah. Sebagai contoh rata-rata pertumbuhan ternak
sapi dan kerbau di Indonesia hanya 0,1-0,3 kg/ekor/hari, padahal banyak hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa dengan pemberian pakan yang optimal maka
pertumbuhan tersebut dapat ditingkatkan sampai 100-200% . Kualitas pakan yang
rendah biasanya karena menggunakan bahan pakan limbah pertanian yang mempunyai
nilai kecernaan yang rendah . Produksi jerami padi menduduki tempat pertama
dari limbah pertanian yang ada . Rendahnya kualitas jerami padi disebabkan oleh
kadar selulosa yang tinggi, sedangkan kandungan nutrisi, mineral esensial dan
vitaminnya rendah . Dua jenis perlakuan yang umumnya dilakukan terhadap jerami,
yaitu : (i) Perlakuan fisik - mempertuas permukaan pakan dan melunakkan tekstur
metiputi pemotongan (chopping), penghancuran, penggitingan (grinding) dan
pembuatan pelet, dan (ii) Perlakuan biologis - meringankan kerja mikroba rumen
dengan proses enzimatis oleh mikroba di luar rumen.
Teknologi Pemerahan Susu Sapi
Perkembangan teknologi
juga bisa dijumpai pada pemerahan susu pada sapi perah, seperti contohnya
gambar di bawah ini

Gambar di atas merupakan alat perah
susu sappi yang modern seperti yang bisa kitajumpai saat ini. Pada zaman
dahulu, di Indonesia masih menggunakan cara tradisional yaitu dengan cara
diperah menggunakan tangan. Perkembangan susu sapi perah di Indonesia sudah
dimulai sejak tahun 1960-an, pemerahan sapi dilakukan oleh para peternak yang
pemerahannya dilakukan dengan cara tradisional. Pemerahan susu sapi
tradisional dilakukan dengan cara menarik bagian puting susu sapi dan
menaruhnya dalam ember dan nantinya baru direbus (pasteurisasi). Pada tahun
1977, pemerintah Indonesia mulai menjalin kerjasama dengan beberapa negara
asing. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk merangsang peternakan agar lebih
meningkatkan produksi susu sapi perahnya. Untuk pengolahan susu modern,
banyak perusahaan asing dan lokal yang bergabung untuk membentuk pabrik yang
besar. Tentunya dengan mengedepankan manajemen keamanan seperti proses
penerimaan, produksi, pengendalian mutu hingga penyimpanan barang jadi.
Pemerahan susu sapi modern dilakukan dengan menggunakan alat seperti selang yang ditaruh pada puting susu sapi dan langsung menyedot susu, ditampung dan disterilisasi. Hingga kini, sterilisasi susu sapi dilakukan dengan cara Ultra higt temperature(UHT), metode ini merupakan pemanasan yang biasa dilakukan pada susu untuk menjaga kesegaran dan kandungan gizinya. Susu dengan teknik UHT dipanaskan dengan suhu tinggi yaitu 135-140 derajat celcius dalam waktu singkat sekitar 2-5 detik. Pemanasan ini berguna untuk mematikan seluruh mikroorganisme dan spora. Selain itu, pemanasan singkat ini dilakukan agar kerusakan nilai gizi yang terjadi tidak besar dan dapat mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah. Rasa yang ditawarkan juga beragam, mulai susu sapi segar hingga penambahan perasa yang enak seperti cokelat, strawberry dan vanilla. Selain memproduksi susu, beberapa perusahaan juga mengembangakan susu dalam olahan produk berbeda yaitu yogurt, butter hingga krim.
Pemerahan susu sapi modern dilakukan dengan menggunakan alat seperti selang yang ditaruh pada puting susu sapi dan langsung menyedot susu, ditampung dan disterilisasi. Hingga kini, sterilisasi susu sapi dilakukan dengan cara Ultra higt temperature(UHT), metode ini merupakan pemanasan yang biasa dilakukan pada susu untuk menjaga kesegaran dan kandungan gizinya. Susu dengan teknik UHT dipanaskan dengan suhu tinggi yaitu 135-140 derajat celcius dalam waktu singkat sekitar 2-5 detik. Pemanasan ini berguna untuk mematikan seluruh mikroorganisme dan spora. Selain itu, pemanasan singkat ini dilakukan agar kerusakan nilai gizi yang terjadi tidak besar dan dapat mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah. Rasa yang ditawarkan juga beragam, mulai susu sapi segar hingga penambahan perasa yang enak seperti cokelat, strawberry dan vanilla. Selain memproduksi susu, beberapa perusahaan juga mengembangakan susu dalam olahan produk berbeda yaitu yogurt, butter hingga krim.
Perbaikan Mutu Genetik Ternak Lokal
Salah
satu alat yang sering digunakan untuk meningkatkan kuatitas ternak adalah
teknotogi reproduksi . Dalam aspek reproduksi tetah dikenal dan diterapkan
secara umum beberapa teknologi, seperti inseminasi buatan (IB) dan transfer
embrio (TE) . Dalam aplikasinya manipulasi genetik merupakan satu-satunya cara
datam bidang teknologi reproduksi yang digunakan untuk pembentukan variasi
genetik baru dan sekatigus meningkatkan mutu genetik ternak . Penerapan
teknologi reproduksi dengan menggunakan IB atau TE memiliki keunggutan dan
kelemahannya masing-masing . Bagaimana memanfaatkan teknologi ini dengan balk
dan secara terpadu akan mengurangi akibat yang dapat timbut, merupakan suatu
tantangan yang menarik dipelajari . Kemajuan teknotogi yang berhubungan dengan
produksi dan manipulasi embrio tetah berkembang dengan pesat (Lubis, 2000).
Wataupun teknologi reproduksi harus diberdayakan sebagai potensi yang besar
untuk dapat digunakan dalam peningkatan mutu genetik ternak, namun penggunaan
teknologi dan metodologi yang rumit, belum dapat diimplementasikan secara
menyeluruh, terutama pada level petani yang memelihara ternak lokal . Di pihak
lain, harus diakui bahwa berbagai teknologi maju tersebut baru dimanfaatkan
pada ternak yang memiliki nitai komersiat yang tinggi, khususnya ternak
persilangan, sedangkan untuk ternak lokal masih betum banyak diterapkan . Di antara
berbagai bangsa ternak ruminansia besar, ternak sapi (wataupun sapi lokal)
lebih banyak diperhatikan daripada ternak kerbau, oteh karena itu tidak banyak
tersedia teknologi yang dapat diaptikasikan pada ternak kerbau, khususnya datam
aspek reproduksinya . Masatah utama ternak tokal adalah ukuran tubuhnya yang
relatif kecil yang disebabkan secara genetik pertumbuhannya rendah . Perbaikan
genetis memerlukan proses yang panjang seperti : seteksi, culling, pemasukan
darah baru dan lainnya. Namun hat yang vital untuk dilaksanakan adalah
mengumpulkan informasi yang akurat mengenai penampilan biotogis ternak tokal .
Selain dari itu pertu usaha untuk menyeleksi pejantan ternak lokal yang
berpenampilan balk dengan berat badan yang optimal sebagai sumber bibit, selain
penggunaan bibit pejantan tainnya . Dengan demikian maka beberapa hat penting
menyangkut perbaikan genetik ternak tokat antara lain adalah : (i) Pemurnian
ternak lokal dengan menyeteksi ternak yang berbobot badan relatif lebih besar
dari rata-rata, (ii) Potensi untuk menyitangkan induk ternak lokal dengan
pejantan bangsa ternak lain yang memiliki kemiripan namun produktivitasnya
lebih balk, sehingga produktivitas turunannya dapat ditingkatkan, akan tetapi
karakter balk yang berasal dari induknya dapat dipertahankan . Dengan demikian,
akan terdeteksi masatah dan potensi biologis ternak lokal yang dapat
mengarahkan pada perbaikan produktivitas di masa datang . Perbaikan
produktivitas ternak pada umumnya berkorelasi positif dengan potensi keuntungan
yang dapat diraih petani .
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Perkembangan
teknologi di bidang ternak sangat berkembang, bahkan mungkin bisa berkembang
pesat untuk ke depannya. Sumbangan ekonomi ternak lokal, dalam kenyataannya,
sangat besar dibanding dengan ternak eksotik . Dalam upaya untuk meningkatkan
produktivitas ternak lokal maka perlu dipetajari secara mendalam karakertistik,
potensi serta permasatahan ternak lokal sebagai basis perencanaan ke depan.
Berbagai teknotogi cukup tersedia untuk meningkatkan produktivitas ternak
tokat, namun penerapannya banyak tergantung pada nilai komersialnya . Ternak
sapi lebih banyak mendapat perhatian dari ternak kerbau, sehingga teknologi
yang tersedia bagi ternak kerbau masih relatif terbatas .
3.2 Saran
Ada
baiknya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan perkembangan teknologi
khususnya di bidang ternak agar Indonesia memiliki kualitas ternak yang bisa
lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-iptek-atau-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi-lengkap.html
https://www.google.co.id/search?q=alat+perah+susu+sapi+modern&rlz=1C1CHBD_enID765ID765&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjqwOK8p-bWAhVINpQKHS9OAtsQ_AUICigB&biw=1366&bih=662#imgrc=U6iYb0qO42JjKM:
Komentar
Posting Komentar